Senin, 22 April 2013

Pestisida Organik


SidaNik adalah :
Pestida Organik Mengendalikan Hama dan Penyakit secara Efesien dan Aman
SidaNik merupakan pestisida dan fungisida organik berspektrum luas denga daya kerja yang kuat ramah lingkungan, dibuat dari bahan-bahan alami (tradisional) yang diolah melalui proses bioteknplogi, efektif untuk menegndalikan organismes pengganggu  tanaman (OPT) dan penyakit pada tanaman cabai, tomat, kubis, tanaman sayuran, tanaman pangan, perkebunan.
SidaNik : Pestisida organik bersifat sestemik dan kontak, mengendalikan mulai dari kuutu daun samapai dengan ulat. Mengendalikan secara sitemik penyakit phytopithora, fusarium, Hama Wereng dlSidaNik pestisida organik dapat meresap ke dalam jaringan srta dapat menembus sampai lapisan bawah daun sehingga efektif mengendalikan hama-hama yang tersembunyi di balik daun.

Kamis, 20 Desember 2012

INDONESIA GO ORGANIK



1.     Pertanian Organik - Pasar di Indonesia (Disiapkan untuk IFOAM dan IFAD)Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau tropis, sekitar 5000 kilometer dari timur ke barat, antara dua samudra, Pasifik dan Hindia, dan antara dua benua, Asia dan Australia. Ini memiliki garis pantai 81.000 kilometer total, suatu daratan dari 1.926.000 kilometer persegi, wilayah perairan dari 3,17 juta kilometer persegi, dan Zona Ekonomi Eksklusif dari 2,7 juta kilometer persegi. Lebih dari separuh daratan Indonesia berhutan dan sebagian besar bergunung-gunung.
Memperluas sepanjang lintang khatulistiwa 60 8 'Utara ke Selatan 110, dan bujur 940 45' sampai 141o Timur, iklim biasanya hujan dengan dua perubahan musim yang berbeda setiap enam bulan, musim kemarau (Juni-September) dan musim hujan (Desember sampai Maret ). Negara terpadat keempat di dunia (215 juta orang pada tahun 2004) memiliki lingkungan tropis dengan suhu harian berkisar antara 23 sampai 31O C di dataran rendah dan 18 sampai 27O C di daerah dataran tinggi. Namun, itu adalah pola curah hujan variabel daripada suhu yang menentukan sistem pertanian, pada umumnya. Berdasarkan peta curah hujan (Statistik Pertanian 2000, Deptan), Indonesia memiliki curah hujan rata-rata pada tahun 2000 - 3500 mm per tahun. Kelembaban relatif tinggi, pada rata-rata 80 persen.
Tanah - Indonesia memiliki sumber daya alam yang luas, yang merupakan aset utama untuk pengembangan agribisnis. Total luas lahan di Indonesia pada tahun 1992 adalah sekitar 192 juta hektar. Sampai tahun 1998, sekitar 66 juta hektar, atau hanya 34% telah digunakan untuk pertanian dan keperluan lainnya. Lahan untuk produksi tanaman pangan mencapai sekitar 29 juta hektar dari 130 juta hektar yang tersedia, sedangkan ada 17 juta hektar lahan tidur yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian organik. Hal ini jelas bahwa makanan produksi tanaman akan mendominasi pertanian organik, khususnya di Jawa-Bali, Sumatera, dan Papua Barat.
Di antara lima pulau utama, Jawa adalah yang paling padat penduduknya tetapi juga yang paling subur. Di Jawa, luas lahan pertanian cenderung menurun, sementara di luar Jawa meningkat. Sumber daya lahan yang berpotensi bisa digunakan masih tersedia terutama di Kalimantan dan Sumatera, yang memiliki wilayah terbesar dari tanah di Indonesia.
Potensi sumber daya laut yang tinggi dan umumnya di bawah dimanfaatkan, kecuali di daerah lepas pantai pesisir dan segera. Laut dan perikanan laut memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan pelagik serta spesies demersal, masing-masing memiliki potensi sebesar 3,2 dan 1,8 juta ton per tahun masing-masing untuk eksploitasi berkelanjutan. Pengembangan perikanan laut harus diperluas ke Samudera Hindia, Laut Sulawesi, Samudera Pasifik Tenggara, dan Laut Cina Selatan.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 215 juta orang yang masih terus berkembang, tidak ada keraguan bahwa produk pertanian organik akan memiliki pasar di masa depan di Indonesia. Menurut pemilik supermarket umum aa di Bisnis Indonesia, melaporkan dalam surat kabar harian (21/12/2004), saat ini terdapat sekitar 15 juta orang di Indonesia makanan organik mengkonsumsi. Meskipun perdagangan produk organik menjamur di kota-kota besar, sangat sedikit toko mengkhususkan diri dalam produk organik.
Departemen pertanian mendirikan sebuah program ambisius, berjudul Go Organik 2010, dengan target untuk menjadi salah satu eksportir terbesar komoditas organik di dunia. Program tiga tahap dimulai pada tahun 2001. 2001 dikategorikan sebagai langkah pertama, dimana informasi yang ada pada pertanian organik dikonsolidasikan. Pada tahun 2005 Infrastruktur yang berkembang dengan baik akan telah dibentuk, dan pada tahun 2010 Indonesia bertujuan untuk menjadi salah satu produsen terbesar pertanian organik di dunia. http://www.biotani.org/organic_farming.htm

Senin, 19 Desember 2011

Beberapa Jenis Klengkeng


1.     Lengkeng Aroma Durian
Daun : Lurus, kaku, dan hijau tua
Tajuk : Percabangan kokoh dan tidak menjuntai
Buah : Daging buah tebal, biji kecil, kering, kulit putih, berpelat
Masa berbuah : 1,5 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 2,5 kg/pohon dari pohon berumur 1,5 tahun



2.    Lengkeng Diamond River
Daun : Lanset, hijau cerah, panjang 10 cm dan lebar 3-4 cm
Tajuk : Kompak, cabang mudah terbelah
Buah : Daging buah tebal, biji kecil, berair, dan beraroma
Masa berbuah : 1,5 - 2 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 10-20 kg/pohon dari pohon berumur 2 tahun




3.    Lengkeng Itoh
Daun : Lurus, agak tebal, panjang 18-22 cm, lebar 5-6 cm
Tajuk : Rimbun, cabang menjuntai seperti terkulai lemas
Buah : Beraroma sepertiBuah seukuran uang logam Rp.500, daging kering, tebal, biji kecil
Masa berbuah : 3,5 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 12 kg/pohon dari pohon berumur 3,5 tahun


4.    Lengkeng Jenderal
Daun : Lebar, agak panjang dan tanpa lengkungan
Tajuk : Lebar
Buah : Daging buah putih, kering, beraroma seperti diamond river, biji kecil
Masa berbuah : 3,5 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 12 kg/pohon dari pohon berumur 3,5 tahun



5.     Lengkeng Kristal
Daun : Kurus, panjang 19-23 cm, lebar 5-6 cm, hijau muda, mirip dan itoh
Tajuk : Menjuntai kebawah seperti terkulai lemas
Buah : Daging buah tebal 4-5 mm, kering, kenyal, kadar gula 23 briks
Masa berbuah : 3 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 35-48 kg/pohon dari pohon berumur 3 tahun


6.     Lengkeng Pingpong
Daun : Oval, panjang 11 cm, lebar 4 cm, tepi daun melengkung,
Tajuk : Cenderung ngelancir
Buah : Seukuran bola pingpong, daging tipis, biji besar, kering, beraroma
Masa berbuah : 1 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 1 kg/pohon dari pohon berumur 7-8 bulan

7.    Lengkeng Puang rai
Daun : Daun muda lurus dan datar,daun tua bagian tepi melengkung
Tajuk : Pertumbuhan cenderung keatas, cabang lebih liat, cocok untuk tabulapot
Buah : Daging tebal 5 mm, dibeberapa tempat berair
Masa berbuah : 1 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 20 kg/pohon dari pohon berumur 5 tahun(pot)


8.     Lengkeng Satu jari
Daun : Agak pendek, panjang 16 cm, lebar 45 cm, hijau tua, ruas batang sangat pendek, letak tepat berhadapan, dan rapat
Tajuk : Tajuk pertumbuhan cenderung keatas, dan lebih kokoh, cocok untuk tabulapot
Buah : Kulit buah muda hijau muda, kulit buah matang gading, daging buah tebal, kering
Masa berbuah : 2 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 4 kg/pohon dari pohon berumur 3 tahun (pot)

9.     Lengkeng Si chompu
Daun : Mirip daun rambutan, panjang 19 cm, lebar 6.2 cm
Tajuk : Kompak, cabang mudah terbelah
Buah : Daging buah tebal, biji kecil, berair, dan beraroma
Masa berbuah : 3 tahun (dengan perlakuan khusus)
Produktivitas : 50 kg/pohon dari pohon berumur 3 tahun





10. Lengkeng Tanpa nama
Daun : Lebih panjang 2-2,5 cm dari daun itoh dan lebih lebar
Tajuk : Lebar
Buah : Lebih kecil dari itoh, agak berair, tetapi lebih manis daripada itoh
Masa berbuah : 4 tahun dari bibit hasil sambungan
Produktivitas : 4 kg/pohon dari pohon berumur 4 tahun


11. Lengkeng Verny
Daun : Mirip rambutan, panjang 24 cm, lebar 6 cm
Tajuk : Rimbun
Buah : Kulit tebal, besar seperti pingpong, daging kering dan tebal
Masa berbuah : 5 tahun dari bibit hasil sambungan yang diberi perangsang buah
Produktivitas : 7,8 kg/pohon dari pohon berumur 5 tahun (Trubus)