1. Pertanian Organik - Pasar di Indonesia (Disiapkan untuk IFOAM dan IFAD)Indonesia
merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau tropis,
sekitar 5000 kilometer dari timur ke barat, antara dua samudra, Pasifik
dan Hindia, dan antara dua benua, Asia dan Australia. Ini
memiliki garis pantai 81.000 kilometer total, suatu daratan dari
1.926.000 kilometer persegi, wilayah perairan dari 3,17 juta kilometer
persegi, dan Zona Ekonomi Eksklusif dari 2,7 juta kilometer persegi. Lebih dari separuh daratan Indonesia berhutan dan sebagian besar bergunung-gunung.
Memperluas
sepanjang lintang khatulistiwa 60 8 'Utara ke Selatan 110, dan bujur
940 45' sampai 141o Timur, iklim biasanya hujan dengan dua perubahan
musim yang berbeda setiap enam bulan, musim kemarau (Juni-September) dan
musim hujan (Desember sampai Maret ). Negara
terpadat keempat di dunia (215 juta orang pada tahun 2004) memiliki
lingkungan tropis dengan suhu harian berkisar antara 23 sampai 31O C di
dataran rendah dan 18 sampai 27O C di daerah dataran tinggi. Namun, itu adalah pola curah hujan variabel daripada suhu yang menentukan sistem pertanian, pada umumnya. Berdasarkan
peta curah hujan (Statistik Pertanian 2000, Deptan), Indonesia memiliki
curah hujan rata-rata pada tahun 2000 - 3500 mm per tahun. Kelembaban relatif tinggi, pada rata-rata 80 persen.
Tanah - Indonesia memiliki sumber daya alam yang luas, yang merupakan aset utama untuk pengembangan agribisnis. Total luas lahan di Indonesia pada tahun 1992 adalah sekitar 192 juta hektar. Sampai tahun 1998, sekitar 66 juta hektar, atau hanya 34% telah digunakan untuk pertanian dan keperluan lainnya. Lahan
untuk produksi tanaman pangan mencapai sekitar 29 juta hektar dari 130
juta hektar yang tersedia, sedangkan ada 17 juta hektar lahan tidur yang
bisa dimanfaatkan untuk pertanian organik. Hal
ini jelas bahwa makanan produksi tanaman akan mendominasi pertanian
organik, khususnya di Jawa-Bali, Sumatera, dan Papua Barat.
Di antara lima pulau utama, Jawa adalah yang paling padat penduduknya tetapi juga yang paling subur. Di Jawa, luas lahan pertanian cenderung menurun, sementara di luar Jawa meningkat. Sumber
daya lahan yang berpotensi bisa digunakan masih tersedia terutama di
Kalimantan dan Sumatera, yang memiliki wilayah terbesar dari tanah di
Indonesia.
Potensi sumber daya laut yang tinggi dan umumnya di bawah dimanfaatkan, kecuali di daerah lepas pantai pesisir dan segera. Laut
dan perikanan laut memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan
pelagik serta spesies demersal, masing-masing memiliki potensi sebesar
3,2 dan 1,8 juta ton per tahun masing-masing untuk eksploitasi
berkelanjutan. Pengembangan perikanan laut harus diperluas ke Samudera Hindia, Laut Sulawesi, Samudera Pasifik Tenggara, dan Laut Cina Selatan.
Dengan
jumlah penduduk lebih dari 215 juta orang yang masih terus berkembang,
tidak ada keraguan bahwa produk pertanian organik akan memiliki pasar di
masa depan di Indonesia. Menurut
pemilik supermarket umum aa di Bisnis Indonesia, melaporkan dalam surat
kabar harian (21/12/2004), saat ini terdapat sekitar 15 juta orang di
Indonesia makanan organik mengkonsumsi. Meskipun perdagangan produk organik menjamur di kota-kota besar, sangat sedikit toko mengkhususkan diri dalam produk organik.
Departemen
pertanian mendirikan sebuah program ambisius, berjudul Go Organik 2010,
dengan target untuk menjadi salah satu eksportir terbesar komoditas
organik di dunia. Program tiga tahap dimulai pada tahun 2001. 2001 dikategorikan sebagai langkah pertama, dimana informasi yang ada pada pertanian organik dikonsolidasikan. Pada
tahun 2005 Infrastruktur yang berkembang dengan baik akan telah
dibentuk, dan pada tahun 2010 Indonesia bertujuan untuk menjadi salah
satu produsen terbesar pertanian organik di dunia. http://www.biotani.org/organic_farming.htm